Malaysia, truly asia?
Pertentangan Indonesia dengan Malaysia nampaknya akan terus berlangsung sampai kedua negera ini hancur ketika kiamat tiba. Proses kelahiran Malaysia memang seperti seorang anak yang tidak direstui keluarganya sendiri, sesama bangsa melayu. Sampai sekarang sepertinya restu itu tidak pernah didapat oleh Malaysia. Selalu saja, berita-berita mengenai Malaysia kita menimbulkan kemuakan bangsa Indonesia, begitupun sebaliknya. Baru-baru ini saya mendapat sebuah pesan, dari teman melalui Friendster, sebuah situs pertemanan yang cukup terkenal di Indonesia. isinya seperti ini:
FW: SEGERA 'FLAG' BLOG INI !!!!
Message:
Original message from Romie
Original message from prio
Original message from nAncELiciOuS
Original message from Mario:
http://ihateindon.blogspot.com
Tolong Flag website ini, website yang berisi blog dari Malaysia yg
jelek-jelekin bangsa indonesia. Semakin banyak yg Flag, semakin cepet websitena
di tutup. Tolong forward ke temen2 bangsa Indonesia yang lainnya yah??? Makasih.
(Flag terletak di atas disebelah Search Blog) mari kita hancurkan bersama2 Blog
ini!!!
Akhirnya saya dapat juga pesan seperti ini. Isu tentang blog yang isinya menjelek-jelekkan Indonesia ini memang sudah lama saya dengar, tapi terus terang baru sekarang saya lihat. Alih-alih membuat saya geram, hal ini malah membuat saya geli. Blog yang menulis headline "Indon esial - bangsa koeli, PATI & kriminal" ini ternyata masih baru, bisa kita lihat didalam Arsipnya, dimulai bulan November. Berarti saat itu waktu dimana berita mengenai penggunaan lagu "Rasa Sayange" oleh Malaysia untuk mempromosikan pariwisata mereka sedang panas-panasnya.
Saat itu hampir bisa dipastikan semua rakyat Indonesia sepakat untuk menghujat Malaysia. Rasa nasionalisme kaum muda tiba-tiba meluap-luap. Sebagian bereaksi dengan menggelar demo didepan Kedubes Malaysia, yang lainnya rama-ramai menyerang lewat dunia Maya, seperti melalui Blog atau bahkan dengan cara meng-Hacking atau Cracking situs-situs malaysia. Semua stasiun televisi di Indonesia pun berlomba-lomba menayangkan peristiwa ini, berbagai talkshow-pun dilakukan, baik televisi maupun radio.
Namun ironis, berbeda dengan di indonesia, warga Malaysia sendiri terlihat tenang saja, bahkan tidak terdengar pembelaan apapun bagi isu yang berkembang ini. Malah hampir semua masyarakat disana justru tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Toh, mahasiswa Indonesia disana juga adem-ayem saja, tidak ada berita mereka diserang atau diboikot oleh masyarakat disana. Hal ini disebabkan karena kondisi Pers disana sangat dibatasi, seperti yang terjadi saat jaman Orde Baru yang lalu. Pemberitaan dari Luar ke Dalam diproteksi, pemberitaan negatif Malaysia di edit, semisal penyiksaan terhadap TKI disana.
Kembali ke masalah blog diatas, ini digambarkan sebagai pembalasan warga Malaysia atas penghinaan orang Indonesia saat itu. Saya malah berfikir bahwa itu bukanlah dibuat oleh orang malaysia. Sebabnya, karena secara logika tidak mungkin orang yang sedemikian bencinya dengan indonesia, rela mempelajari sejarah kita dan kemudian menjelek-jelekkannya. Coba kita lihat semua tulisannya, sangat paham sekali dengan Indonesia. Blog ini dibuat oleh orang Indonesia sendiri yang ingin memperkeruh suasana, orang yang cari perhatian saja. Gampangnya coba perikasa bahasa yang dia gunakan, bukan tipikal orang Malaysia, karena hanya sedikit kosakata melayu yang dia pakai (kecuali berita-berita yang dia copy-paste dari sumber lain). Kadang dia mengambil tulisan dari blog orang lain, seperti ayulittleone , yang dianggapnya sebagai teman seperjuangan, padahal blog ini berisi kritikan-kritikan terhadap pemerintahan Indonesia, bukan menjelek-jelekkan.
Satu lagi yang perlu digarisbawahi. Kita tidak bisa menutup mata di Malaysia terdapat ratusan ribu TKI yang bekerja disana semenjak tahun 70-an, bahkan ada beberapa yang melakukan naturalisasi. Jadi suatu hal yang alamiah ketika terjadi akulturasi budaya disana. Kebudayaan Indonesia yang dibawa oleh TKI menjadi sebuah kebudayaan pula disana. Tapi tetap, saya pun menyesali apa yang dilakukan Malaysia, terutama pemerintahannya. Sebab, sebelum meng-klaim sebuah kesenian atau budaya, seharusnya mereka telusuri dulu root-nya, bagaimana suatu kesenian daerah itu lahir disana, tidak asal ambil saja. Anwar Ibrahim (mantan PM Malaysia yang sempat dipenjara disana) saja mengatakan bahwa tindakan pemerintahan Malaysia saat ini (kasus lagu rasa Sayange) layaknya orang dungu yang tuli.
Baru-baru ini ada satu statement dari pihak Malaysia dalam sebuah interview di SCTV (kalau tidak salah), yang mengatakan bahwa penggunaan beberapa kesenian atau budaya Indonesia dalam kampanye wisata Malaysia adalah sebagai representasi dari slogan wisata mereka, Malaysia Truly Asia!. Mereka ingin menjadi pintu gerbang Asia tenggara..
Banyak hal yang ada di kepala saat ini, mungkin juga Anda. Mungkin saatnya kita pikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk Indonesia. Bukan untuk menghabiskan tenaga mengganyang Malaysia, melainkan menyusun strategi-strategi memajukan Indonesia. Bagaimana agar budaya Indonesia dari Sabang samapai Merauke bisa terkespose keluar, atau setidaknya tidak akan punah. Karena selama ini kita lupa.
Indonesia, Our Asia!
avlelva